Monday, June 1, 2009

Sufyan Bin Uyainah, Kunikahi Dia Kerana Agamanya


Ulama tabiut tabiin ini dilahirkan pada tahun 107H pada pertengahan Syawal. Nasab lengkapnya, Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran al-Kufi. Dia dikenal dengan panggilan Abu Muhammad.

Ayahnya seorang pegawai pada masa Khalid bin Abdillah Al-Qasri. Tatkala Khalid diberhentikan dari jabatan Gabenor Iraq dan digantikan oleh Yusuf bin Umar at-Tsaqafi, pejabat baru ini mencari-cari para pekerja pada masa pemerintahan Khalid, sehingga mereka berlarian untuk menyembunguikan diri. Uyainah, ayah Sufyan, melarikan diri sampai ke kota Makkah dan akhirnya memutuskan menetap disana.

Menuntut Ilmu Dengan Ulama

Ketika ia meningkat usia 15 tahun, ayahnya memanggilnya, seraya berpesan: “Wahai Sufyan! Masa kanak-kanak sudah lepas darimu, maka kejarlah kebaikan, supaya engkau termasuk orang-orang yang mengejarnya. Jangan tertipu dengan pujian orang-orang yang menyanjungmu dengan pujian yang Allah mengetahui, bahawa keadaanmu berlawanan dengan itu. Sebab, tidak ada orang yang berkata baik kepada orang lain tatkala ia sedang senang, kecuali ia akan berkata kejelekan kepadanya serupa ketika ia sedang dilanda amarah. Nikmati kesendirian daripada bergaul dengan kawan-kawan yang buruk. Jangan engkau alihkan prsangka baikku kepadamu kepada prasangka lain. Dan tidak akan ada orang yang berbahagia bersama dengan ulama, kecuali orang-orang yang mentaati mereka”.

Mendengar nasihat ayahnya ini Sufyan berkata dalam hati : ”Sejak itu, aku menjadikan pesan ayah sebagai arah kompasku, berjalan bersamanya, tidak menyimpang darinya”.

Begitulah yang ia jalani. Sejak usia dini, ulama besar ini telah menyibukkan diri pada pendalaman ilmu agama. Tepatnya pada tahun 119H.

Ibnu Uyainah mengisahkan tentang dirinya: ”Aku keluar menuju masjid, dan aku melihat-lihat halaqah-halaqah (majlis ilmu) yang ada. Bila aku lihat ada kumpulan ulama dan orang-orang tua, maka aku menghampirinya”.

Dia menceritakan: ”Aku duduk di majlis ilmu Ibnu Syihab dalam usia enam belas tahun tiga bulan”.

Salah satu yang menunjukkan keberuntungannya, sebanyak 80 ulama besar dari kalangan tabi’in sempat ia jumpai. Misalnya, ’Amr bin Dinas, az Zuhri, Muhammad bin al Munkadir, al A’masy, Sulaiman at Taimi, Humaid ath Thawil.

Menjadi Sumber Rujukan

Tentang kekuatan hafalannya, ia berkata, ”Aku tidak pernah menulis sesuatu, kecuali sudah aku hafal sebelum aku menuliskannya.”

Tak sia-sia, berkat pergaulannya dengan ulama-ulama besar, telah membentuk dirinya menjadi peribadi yang teguh, luas ilmunya dan mendalam. Ia menjadi sumber rujukan dalam berbagai permasalahan dan tempat curahan isi hati.

Yahya bin Yahya an Naisaburi menceritakan: ”Suatu hari, ada seorang lelaki mendatangi Sufyan dengan berkata : ’Wahai , Abu Muhammad (yang dimaksud adalah Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan isteriku. Aku menjadi lelaki yang paling hina dan rendah dimatanya”.

Maka Sufyan menggeleng-gelengkan kepala hairan dan kemudian berujar: ”Mungkin, keadaan itu muncul kerana engkau menikahainya untuk meraih kehormatan?”

Lelaki itu pun mengakuinya: ”Ya, betul wahai Abu Muhammad”.

Sufyan lalu berpesan: ”Barang siapa pergi kerana mencari kehormatan, nescaya akan diuji dengan kehinaan. Barangsiapa mengerjakan sesuatu lantaran dorongan harta, nescaya akan diuji dengan kefakiran. Barangsiapa bergerak kerana dorongan agama, nescaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama agamanya”.

Kunikahi Dia Kerana Agamanya

Berikutnya, Sufyan mulai berkisah:

”Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah abang sulung., Imran anak bungsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, ia menginginkan kemuliaan nasab. Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi kedudukannya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan.

Sedangkan Imran, (saat menikah) ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya dari dirinya. Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan. Keluarga wanita mengambil seluruh yang dimilikinya, tidak menyisakan sedikitpun.

Aku pun merenungkan nasib keduanya. Sampai akhirnya Ma’mar bin Rasyid datang menghampiriku. Aku pun berdiskusi dengannya. Aku ceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku. Ia mengingatkanku dengan hadis Yahya bin Ja’daj dan hadits Aisyah.

Hadis Yahya bin Ja’dah yang dimaksud, iaitu sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

”Wanita dinikahi kerana empat perkara: Kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Carilah wanita yang beragama, nescaya kamu akan beruntung”.

Sedangkan hadis Aisyah, Nabi shallallahu alaIhi wa sallam bersabda :

Wanita yang paling besar berkahnya adalah wanita yang paling ringan beban pembiayaannya”

Maka, aku memutuskan untuk memilih bagi diriku (wanita yang) memiliki din dan beban yang ringan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alahi wa sallam. Allah menghimpunkan bagiku kehormatan dan limpahan harta dengan sebab agamanya”.

Itulah salah satu hikmah yang muncul dari lisannya. Tidak sedikit untaian hikmah dari Sufyan yang mencerminkan kedekatannya dengan Al-Khaliq, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kata-Kata Hikmahya

Sufyan bin Uyainah pernah ditanya tentang hakikat wara’, Dia pun menjelaskan: Wara’ adalah keinginan untuk mendalami ilmu din yang menjadi sarana untuk mengenal seluk-beluk wara’. Sebagian orang menganggap sikap wara’ tercermin pada sikap diam dalam waktu yang lama dan sedikit bicara, padahal tidak demikian. Menurut kami, sesungguhnya orang yang berbicara lagi alim, itu lebih afdhal dan lebih wara’ dibandingkan lelaki yang jahil lagi diam.

Sufyan bin Uyainah juga memiliki hikmah yang menunjukkan kedalaman ilmunya. Dia menyatakan, perumpamaan ilmu adalah bagaikan negeri kufur atas negeri Islam. Apabila penganut Islam meninggalkan jihad, nescaya orang-orang kafir akan datang dan mengambil Islam. Jika orang-orang meninggalkan ilmu, maka mereka menjadi manusia-manusia bodoh.

Tentang pentingnya menyampaikan ilmu yang sudah diketahui, dia berkata: ”Tidaklah disebut (sebagai) alim orang yang mengetahui kebenaran dan kejelekan. Tetapi, orang alim sejati ialah orang yang mengetahui kebaikan dan mengikutinya, serta mengetahui kejelekan dan menjauhinya”.

Wafatnya

Sufyan bin Uyainah wafat pada hari Sabtu, 1 Rejab 198H.

Semoga Allah menganugerahinya dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di syurgaNya yang tertinggi.

(Terjemahan dari bahasa Indonesia oleh M.A.Uswah dengan sedikit perubahan)

Rujukan:
Majalah As-Sunnah,
Edisi 1426H/2005M, Indonesia yang diambil rujukannya dari Tahdzibul Kamal fi Asma-i ar Rijal (3/223-228) karya al-Hafiz Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf al-Mizzi, tahqiq Basyyar Awwad Ma’ruf, Muassasah ar-Risalah, Cetakan 1, 1418H–1998M

No comments:

Post a Comment